Generasi Muda Beksi Petukangan Bersih-bersih Lima Makam Guru Besar Beksi 

0 193
JAKARTA – Belasan anak muda melakukan bersih-bersih makam M.Nur dan Simin di TPU Jalan H.Nian Kelurahan Petukangan Selatan, Kecamatan Pesanggrahan, Jakarta Selatan, Jumat (27/11/2020), sore.

 

 

Aksi itu menarik perhatian masyarakat di sana lantaran dilakukan anak muda dengan kompak. Mereka juga diikuti sejumlah tokoh masyarakat.Makam yang dibersihkan itu merupakan makam guru besar Beksi.

 

 

Pembersihan makam diawali dengan pembacaan doa untuk para arwah. Belakangan diketahui mereka yang membersihkan makam itu para generasi muda Beksi. Sebelumnya pada Jumat pekan lalu membersihkan makam Haji Gojalih dan Mandor Minggu. Bersih-bersih makam rutin dilakukan setiap Jumat sore.

 

 

Aksi itu disambut gembira tokoh masyarakat setempat. Itu karena dinilai turut peduli dan menghargai jasa-jasa para guru Beksi. “Saya bangga kepada anak-anak muda sekarang,” kata Muhamad Soleh, yang merupakan anak dari almarhum guru besar Beksi Haji Hasbullah.

 

 

Muhamad Soleh mengaku senang terhadap anak-anak muda di wilayahnya aktif pada silat Beksi. Mereka itu seperti Azis, Rido, dan Jajang yang selalu kompak bila ada kegiatan Beksi.
Menurutnya, mereka berusaha melestarikan silat Beksi. Apa jadinya bila tak ada anak-anak muda itu.Sebagai orangtua pihaknya harus mendukung.

 

 

Muhamad Soleh juga menganggap bahwa di Petukangan ini merupakan pusat Beksi. Karena ada lima guru Beksi dan perguruannya yang  tersebar ke seluruh Indonesia.

 

 

Adapun lima guru besar Beksi itu adalah Haji Gojalih, Haji Hasbullah, Mandor Minggu, Kong M.Noor, dan Kong Simin. Lewat guru-guru besar inilah silat Beksi terus berkembang. Kendati banyaknya perguruan Beksi tetap selalu kompak dan akur

 

 

Sarmidi (50), murid dari guru besar Beksi almarhum Kong M.Nur mengaku kaget ada anak-anak muda membersihkan makam tokoh Beksi. Dirinya tak menyangka anak muda kompak melakukan itu. “Ini bagus sekali dan saya bangga,” katanya.

 

 

Seniman Blantek, Nasir Mufid (65), mengharapkan keberkahan bagi anak-anak muda yang aktif di Beksi. Apalagi sampai mendoakan dan membersihkan makam para gurunya.”Kami sebagai orangtua hanya bisa mendorong dan memotivasi para generasi muda,” ucapnya.

 

 

Nasir mengungkapkan bahwa Beksi dan seni Blantek sangat berhubungan erat. Sama-sama seni dan budaya Betawi. Menurutnya, dulu belajar Beksi untuk kekuatan.Sekarang untuk olahraga dan prestasi.Karena itu seni Blantek yang merupakan pertunjukan rakyat ini bisa berkolaborasi dengan silat Beksi dan juga Lenong.

 

 

Sementara, Muhamad Rido, pegiat budaya Betawi menilai lima guru besar Beksi itu merupakan tokoh-tokoh lingkungan dan juga pejuang kemerdekaan.”Para tokoh Beksi ini sangat berpengaruh dan dicintai masyarakat sampai sekarang,” katanya.

 

Sejarah mencatat awal masa kemerdekaan ada perlawanan laskar Beksi terhadap penjajah Belanda.Nah perlawanan kepada kaum penjajah saat di Kebayoran itu diinisiasi lima guru besar Beksi yang berasal dari Petukangan.

 

 

Img20201127164819
Sejumlah anak muda di Petukangan Utara dan Petukangan Selatab yang aktif pada silat Beksi membersihkan makam guru besar Beksi M.Nur dan Simin.(setia)
Menurutnya, budaya Beksi ini masih diikuti para generasi muda.Ini karena  merupakan budaya positif dan sangat bermanfaat. Sehingga silat Beksi ini terus berkembang di seluruh jabodetabek.Bahkan sampai Rengasdengklok.Kini ada sekitar 300-an perguruan Beksi se-Indonesia.(setia)
hut ri kel cipondoh
Loading...