Menu

Mode Gelap
Seminar dan Gathering 2026, ACE Banten: Pererat Solidaritas dan Tingkatkan Kompetensi Pelepasan TK Melati Indah Cipondoh Makmur Gelar Pentas Seni Warga Gang Kartini dan Gang H Masum Cipondoh Kompak Kerja Bakti Bersihkan Lingkungan Program PNM Peduli di Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Tanam 29 Ribu Pohon di Seluruh Indonesia Uji Emisi Gratis Digelar di Kota Tangerang, DLH Targetkan Periksa 500 Kendaraan Wali Kota Sachrudin: Nilai-Nilai Pancasila Agar Jadi Napas Kehidupan di Masyarakat

Tangerang Raya

Uten Sutendy : Banyak Situ yang Hilang Fungsi Karena Kurang Terawat

badge-check


					Presiden Tangsel Club Uten Sutendy saat mengisi diskusi pada hari Lingkungan Hidup se- Dunia.(ist) Perbesar

Presiden Tangsel Club Uten Sutendy saat mengisi diskusi pada hari Lingkungan Hidup se- Dunia.(ist)

Tangerang, Jagadbanten.id – Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) harus bertindak tegas dalam menertibkan penggunaan dan pemanfaatan situ- situ yang ada di wilayah Kota Tangsel.

Hal itu diungkapkan oleh Uten Sutendy, budayawan dan Presiden Tangsel Club dalam diskusi terbatas  menyambut Hari Lingkungan Hidup se – Dunia di sebuah rumah makan di Kota Tangsel, pada Minggu 5 Juni 2022.

Uten mengatakan, Pemkot dan warga Tangsel harus bersyukur karena Tangsel adalah salah satu kota di dunia yang dianugerahi banyak situ yang menampung air baku sebagai sumber kehidupan bagi semua warga. “Juga berfungsi sebagai pusat kreativitas budaya dan juga sebagai penahan banjir,” terang Uten.

Namun, dalam pengamatannya Pemkot nampaknya kurang mensyukuri hal itu karena belakangan kian, banyak situ yang hilang fungsi karena tak dirawat dengan semestinya.

“Jangankan kita bisa membuat situ- situ itu berkembang menjadi  pusat aneka kreativitas positif warga, sebagian situ yang ada malah sudah hilang. Bahkan yang ada pun terkesan dan cenderung salah urus, salah fungsi,” kritik Uten.

Uten menyebut beberapa situ di antaranya Situ Perigi, Situ Gintung, Situ Pamulang, Situ Jeuletreung dua, dan beberapa lagi yang lainnya,  yang masih bagus. “Namun lebih banyak diisi oleh para pedagang kecil dan kegiatan keramaian yang kurang terkonsep.Kesannya kurang terawat dan “liar”.” kata Uten.

Menurutnya hal itu karena pemerintah masih miskin konsep dalam pengelolaan situ dan cendrung mengabaikan ide-ide konseptual dan kreatif  yang ditawarkan oleh para penggiat lingkungan dan para budayawan-seniman.

“Menurut saya pemerintah harus bertanggungjawab. Bukan sebatas membangun infstruktur lalu merasa sudah selesai tugas. Belum. Justru tanggungjawab dan tugas  paling besar adalah menjawab pertanyaan bagaimana caranya agar situ- situ itu tetap lestari dan indah,” ujar Uten.

Misalnya, kata Uten, dengan cara mengakomodir para penggiat lingkungan, seniman dan budayawan. Merekalah yang harus mengisi ruang-ruang  yang tersedia di sekitar situ, karena merekalah yang memiliki kecintaan dan kepedulian kepada situ, plus punya konsep. Bukan malah membiarkan pihak lain seenaknya saja memanfaatkan situ. Harus tegas, jangan ada pembiaran.” tegas Uten.(uchie himura)***

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Seminar dan Gathering 2026, ACE Banten: Pererat Solidaritas dan Tingkatkan Kompetensi

7 Juni 2026 - 23:32 WIB

Pelepasan TK Melati Indah Cipondoh Makmur Gelar Pentas Seni

7 Juni 2026 - 19:37 WIB

Warga Gang Kartini dan Gang H Masum Cipondoh Kompak Kerja Bakti Bersihkan Lingkungan

7 Juni 2026 - 18:50 WIB

Uji Emisi Gratis Digelar di Kota Tangerang, DLH Targetkan Periksa 500 Kendaraan

3 Juni 2026 - 15:08 WIB

Trending di Lifestyle