Menu

Mode Gelap
Seminar dan Gathering 2026, ACE Banten: Pererat Solidaritas dan Tingkatkan Kompetensi Pelepasan TK Melati Indah Cipondoh Makmur Gelar Pentas Seni Warga Gang Kartini dan Gang H Masum Cipondoh Kompak Kerja Bakti Bersihkan Lingkungan Program PNM Peduli di Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Tanam 29 Ribu Pohon di Seluruh Indonesia Uji Emisi Gratis Digelar di Kota Tangerang, DLH Targetkan Periksa 500 Kendaraan Wali Kota Sachrudin: Nilai-Nilai Pancasila Agar Jadi Napas Kehidupan di Masyarakat

Banten

Limbah Galian Pasir Cemari Kali Sentul, Air Jadi Berbusa dan Bikin Gatal

badge-check


					Limbah Galian Pasir Cemari Kali Sentul, Air Jadi Berbusa dan Bikin Gatal Perbesar

CILEGON – Kondisi Kali Sentul yang berada di wilayah Pabuaran, Kelurahan Ciwedus, Kecamatan Cilegon, Kota Cilegon. Hal ini karena aliran air di kali tersebut dipenuhi busa berwarna putih yang menutupi seluruh jalur air yang mengalir dari hulu hingga ke hilir kali.

Busa tersebut menimbulkan bau yang menyengat. Diduga air busa tersebut berasal dari bahan kimia. Akibatnya banyak kulit warga yang mengalami gatal-gatal.

“Busa itu kayak ada bau semacam dari bau obat gitu, terus kalau dipegang ke tangan itu lengket dan bikin gatal,” kata Nasir, salah satu masyarakat, Rabu (22/1/2020).

Sementara Nasrullah salah satu warga mengaku pihaknya belum bisa memastikan asal dari busa tersebut.

Warga menduga busa dengan bau kimia itu berasal dari resapan air hujan yang kemudian bercampur dengan limbah penyedotan pasir yang dibuang ke sungai.

Akibat adanya busa tersebut menutupi aktivitas warga yang biasa mencuci ataupun mandi di wilayah sekitar terganggu.

Ketua RT 01 RW 06 Lingkungan Pabuaran, Mad’urip mengungkapkan, pencemaran Sungai Sentul itu sudah lama terjadi. Dia menuturkan sejak adanya aktivitas galian pasir di wilayah Bagendung membuat sungai di wilayahnya berubah warna menjadi coklat pekat dan membawa material kerikil.

“Di hulu kan ada galian pasir, yang tadinya airnya bersih sekarang malah butek (keruh) dan enggak bisa dipakai buat apapun,” kata Mad’urip.

Akibat pencemaran ini, kata dia, para petani di Lingkungan Pabuaran dirugikan. Sebab, air yang biasa digunakan untuk mengairi sawahnya tersebut menjadi kotor karena tercampur material pasir.

“Kalau begini kan ini airnya biasanya dipakai buat pengairan karena enggak ada lagi sumber air ya kita terpaksa pakai air ini, ini juga malahan bikin tanah sawah jadi keras karena tadi itu bercampur sama material pasir,” jelasnya. (DHE)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Peringati Hari Bumi, Banksasuci Foundation dan JMSI Banten Tanam 1.000 Pohon di Situ Cihuni

22 April 2026 - 21:59 WIB

Kembali Pimpin IHKA Banten, Slamet Suprianto Akan Inisiasi BPC Bandara

19 April 2026 - 23:57 WIB

Reses di Kota Tangerang, Michael Eka Sugiharto Kaget ada Wilayah Belum Miliki Posyandu

19 Februari 2026 - 19:05 WIB

Dewan Pers Respons Positif Usulan JMSI soal Perluasan Perlindungan HAM bagi Pekerja Pers

9 Februari 2026 - 08:17 WIB

Trending di Banten